Senin, 06 Agustus 2012

Berbahagialah Ibu


Aku menatap punggung wanita separuh baya yang sedang mengepak pakaianku di kamar. Wanita yang melahirkan dan mengasuhku tanpa dampingan siapapun. Juga wanita yang akan kutinggalkan untuk merantau di negeri orang. Ya, mau tidak mau aku menjadi semakin dewasa. Aku sudah bisa mencintai dan dicintai laki-laki. Laki-laki itu, aku juga akan meninggalkannya. Nanti aku pasti bisa kembali untukmu, tapi tidak lagi untuk laki-laki itu. 

Ibu, aku menempatkan kebahagiaanmu diatas segalanya. Bahkan diatas bahagiaku sendiri. 

Sekarang saatnya aku membalas semua susah yang kubuat untukmu sejak kecil. Mungkin seperti ini pun belum cukup. Mengingat bagaimana orang yang tidak bisa kusebut ayah meninggalkanmu sejak aku lahir. Bahkan ketika seperti ini, aku merasa sudah sangat mengorbankan kebahagiaanku.

Ibu, besok sebelum aku berangkat, kau akan menikah. Semoga kau bahagia.

Ibu, semoga pengorbananku ada artinya untukmu. Dengan tidak mencintai laki-laki itu, aku akan membahagiakanmu. Dengan meninggalkannya, aku akan melihat ibu hidup dengan baik. Dengan membuang perasaanku pada putra calon suami ibu, aku akan membuat ibu menjadi wanita yang paling beruntung.

Ibu, berbahagialah.

0 komentar:

Posting Komentar