Tampilkan postingan dengan label imaaajinasi :). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imaaajinasi :). Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Oktober 2013

There's No Way Back

"Terima kasih sudah datang".

Kata terakhir yang kamu dengar dariku hari ini. Apa kamu tahu? Aku harus mengakui kenyataan bahwa ada perbedaan yang nyata di antara kita. Selama lima tahun kebersamaan, semakin lama aku semakin tahu. Aku untukmu, dan kamu untukku, adalah rasa yang tidak bisa dibilang sejalan. Kamu adalah seluruh hidupku. Dan aku hanyalah sebagian bab dari buku yang kau baca. Itulah mengapa aku mencinta dan kamu meragu.

Itulah mengapa aku yang harus menunggumu berjam-jam di kafe tempat kita biasa bertemu.
Itulah mengapa aku yang datang ke rumahmu di ulang tahun kedua puluh limamu, namun kamu bersenang-senang dengan teman-temanmu di luar.
Itulah mengapa aku yang ingat hari jadi kita.
Itulah mengapa aku yang meminta maaf terlebih dahulu.
Itulah mengapa aku yang merasa cinta sendiri.

Karena kamu terlalu sibuk untuk peduli. Sedangkan aku lelah memperjuangkan perasaan dan memutuskan untuk memilih logika. Itulah mengapa hari ini, aku berdiri bersama pria yang tidak sepertimu, ia mencintaiku mati-matian. Kamu yang dulu kucintai mati-matian, sekarang sedang berdiri di hadapanku, mengucapkan selamat layaknya tamu undangan yang lain.

"Selamat tanggal 20 Desember yang ke 6. Semoga kamu bahagia", ucapmu lirih saat tangan kita bertaut.

Mereka pikir aku menangis bahagia. Tetapi aku hancur lagi. Kamu menunda waktu begitu lama untuk merayakan hari jadi kita.

Selasa, 18 Desember 2012

Neptunus

Saya tidak ingin seperti Kugy. Yang terlalu bodoh untuk sebuah pilihan saja.
Saya tidak ingin seperti Keenan. Yang menyangka kalau hati bisa memilih cinta.
Saya tidak ingin seperti Remigius. Yang ternyata salah menemukan apa yang dicarinya.
Saya pun tidak ingin seperti Luhde. Yang begitu rela mengembalikan rasa.

Saya ingin seperti Neptunus.
Meskipun ia fantasi tapi dianggap ada oleh seorang Aquarius.
Sesempurna khayalan yang terlampau lurus.
Bahwa Neptunus menerima pesan yang mengarungi laut tak berarus.

Dan sepertinya kamu cukuplah menjadi seorang Libra.
Tidak bisa menjadi agen rahasia.
Cukuplah kamu memiliki kehidupan yang nyata.
Tidak perlu mengikutiku yang terlalu mengangkasa.
Dengan begitu tempat kita berpijak menjadi berbeda.
Kita tidak bisa tersambung dengan radar yang sama.
Karena kita memang tidak punya.
Seperti tidak punyanya kita akan alasan untuk bersama.
Untuk kamu saya ingin seperti Neptunus saja.
Siap tak siap, rela tak rela.

terinspirasi dari : Perahu Kertas

Senin, 06 Agustus 2012

Hujan


Hujan, sudah lama tidak bertemu. Kamu masih harum seperti biasanya. Masih sendu rasa tetes airmu. Masih ia menyesap dalam tanah tak berdasar. Masih pula menghadirkan kesemuan sore hari. Juga, masih mengundang kenangan-kenangan tak bertuan.

Hujan, aku tidak tahu banyak lagi cerita tentangmu. Dulu jelas teraba, sekarang samar dibalik jendela usang. Aku tidak terlalu ingat tepat waktu-waktu dimana kamu datang. Tapi bagaimana bisa aku lupa dingin tetesmu yang jatuh. Aku ingat betul kamu.

Hujan, terima kasih sudah datang sore ini. Kali ini akan kupuja hadirmu. Besok belum tentu kita bertemu di bawah langit yang sama.

Berbahagialah Ibu


Aku menatap punggung wanita separuh baya yang sedang mengepak pakaianku di kamar. Wanita yang melahirkan dan mengasuhku tanpa dampingan siapapun. Juga wanita yang akan kutinggalkan untuk merantau di negeri orang. Ya, mau tidak mau aku menjadi semakin dewasa. Aku sudah bisa mencintai dan dicintai laki-laki. Laki-laki itu, aku juga akan meninggalkannya. Nanti aku pasti bisa kembali untukmu, tapi tidak lagi untuk laki-laki itu. 

Ibu, aku menempatkan kebahagiaanmu diatas segalanya. Bahkan diatas bahagiaku sendiri. 

Sekarang saatnya aku membalas semua susah yang kubuat untukmu sejak kecil. Mungkin seperti ini pun belum cukup. Mengingat bagaimana orang yang tidak bisa kusebut ayah meninggalkanmu sejak aku lahir. Bahkan ketika seperti ini, aku merasa sudah sangat mengorbankan kebahagiaanku.

Ibu, besok sebelum aku berangkat, kau akan menikah. Semoga kau bahagia.

Ibu, semoga pengorbananku ada artinya untukmu. Dengan tidak mencintai laki-laki itu, aku akan membahagiakanmu. Dengan meninggalkannya, aku akan melihat ibu hidup dengan baik. Dengan membuang perasaanku pada putra calon suami ibu, aku akan membuat ibu menjadi wanita yang paling beruntung.

Ibu, berbahagialah.

Minggu, 27 Mei 2012

Made to be Broken

Definisinya, janji memang harus ditepati. Tapi kemudian tidak semua yang kamu ucapkan menjadi sebuah janji. Untuk itu aku tidak perlu lagi mendengar setiap detail kata-katamu. Biar kudengar suaramu dengan samar bersama angin. Kalau bisa aku ingin memintamu untuk tidak bicara lagi. Apa yang kamu ucapkan merupa menjadi janji yang kamu lupakan sendiri. Aku bahkan sudah menganggapnya omong kosong. Don't give me any promises more. I'm tired of you. Live and love yours.

Are promises really made to be broken?

Jumat, 24 Februari 2012

Lebih Dari Sekali


Kapan-kapan, aku ingin mendapat peran yang berbeda. 
Bukan lagi sebagai genangan becek yang tertinggal saat hujan reda. 
Atau embun yang tersisa saat pagi datang.
Mereka semua ditinggalkan. 
Lebih dari sekali, aku menjadi jejak di belakang seperti mereka. 
Lebih dari sekali, mereka yang berperan sebagai hujan dan pagi menolak untuk mengenang. 
Lain kali kalau aku ingin berjalan jauh di depan, wajarilah. 
Kalau aku membuat yang lain menunggu dan merindukan, maklumilah.
Karena lebih dari sekali mereka menghinggapi, aku sudah bosan.

Minggu, 19 Februari 2012

Maaf (last)

Untukmu.

Begitu banyak masalah yang kutimbulkan untukmu. Maaf sudah merecokimu dengan pertanyaan maupun pernyataan bodoh. Maaf sudah mencuri waktumu yang sangat sedikit hanya untuk menemaniku. Maaaaff sekali sudah mengganggu ketika kamu dilanda kebingungan. Aku yang egois ini, tidak tahu bagaimana caranya agar kita bisa bersama sebentar. Maaf sudah membunuh karakternya, tapi kemudian aku gagal. Terima kasih sudah menjadi begitu sabar. Maaf belum bisa membalas kebahagiaan yang kamu bagi sampai detik ini. Lain kali jika aku memanggilmu, jangan menoleh.

Aku mengingatmu kemarin, sekarang, dan esok hari.

Selasa, 07 Februari 2012

Jalan

"Kemana kamu akan pergi?"
"Aku akan berjalan lurus sampai jalan bercabang itu,  kemudian berbelok ke kanan".
"Aku ikut denganmu, ya?"
"Tidak boleh. Kamu tidak boleh melewati jalan yang sudah kulewati. Kamu tidak boleh menginjak jejak yang sudah kubuat. Jadi berbeloklah ke kiri".
"Kenapa tidak boleh? Aku tidak akan merusak jejak sepatumu. Aku akan lewat di sisi yang tidak kamu injak".
"Tetap saja. Pada akhirnya kamu akan sampai di tempat yang kutuju. Kita tidak boleh bertemu lagi".
"Kenapa? Kenapa kita tidak boleh bertemu lagi? Aku tidak akan nakal. Tidak akan merusak robot-robot kesayanganmu lagi".
"Pokoknya tidak boleh. Lepaskan genggaman tanganmu, aku akan mendahului pergi".
"Kenapa?"
"Karena jalan kita tidak boleh sama. Kita tidak boleh sama-sama lagi. Kamu boleh menatapku sebelum aku berjalan kesana".
"Tidak mau. Nanti aku akan susah melupakanmu. Pergi saja sekarang".

Aku sudah lelah bertanya kalau ternyata jawabannya tidak bisa kupahami. Jadi aku biarkan saja kamu pergi.

Spesial

Apa? Spesial? Ada kata lain mungkin? Oh, istimewa ya?
Siapa yang spesial? Memangnya siapa yang istimewa?

Aku biasa. Terlalu biasa malah. Aku tidak bisa membangunkanmu setiap pagi, mengucapkan selamat tidur di akhir harimu, menyeduh teh pagimu, memasak makanan kesukaanmu. Aku tidak bisa semuanya. Aku tahu setinggi apa ombak kecewamu. Karena itu aku diam saja ketika kamu mulai meminta wanita lain untuk membangunkanmu di pagi buta. Aku terima ketika kamu berkunjung ke rumah wanita lain untuk menikmati secangkir teh yang tidak akan kamu dapat dariku. Dan aku masih bisa tersenyum ketika kamu bercanda dengan teman wanitamu di cafe, yang tidak akan bisa kamu lakukan denganku. Karena aku tidak bisa apa-apa. Menggenggam tanganmu pun aku tidak bisa. Aku menjagamu dari sudut yang tidak akan kamu sadari. Aku sudah tak kasat mata lagi olehmu. Karena aku sudah pergi.

Sabtu, 04 Februari 2012

Punggungmu

Aku melihatnya semakin menjauh. Bidang yang lebar dan kokoh itu kemudian menghilang di ujung jalan. Kakiku diam di tempat terakhir kita bertemu. Baru saja kita berjanji untuk berbalik pergi secara bersamaan dalam hitungan ketiga dan tidak ada yang boleh menoleh lagi. Aku tidak bisa. Aku tetap ingin melihat punggungmu, satu-satunya yang bisa kulihat setelah kau pergi adalah punggungmu.

Bangunan ini sepertinya tahu apa yang terjadi dua tahun belakangan. Sekolah kita. Kita berpisah, hei tukang onar. Ingat kau dulu selalu mengejekku sepanjang hari di sekolah? Pernahkah aku menolak ketika kau butuh bantuanku? Bagaimana aku bisa menolak kalau hanya itu satu-satunya cara agar kau bisa menaruh sedikit konsentrasimu padaku. Dan satu-satunya cara aku bisa membuat mata dibalik kacamata ber-frame hitam itu memandangku barang sejenak.

Sampai jumpa tukang onar. Sukseslah disana. Aku masih bisa melukis punggungmu di pikiranku sampai kamu berbalik.



"I love you" words I keep shouting in my heart.
"I love you" words I can only whisper behind your back.
"I love you" words that I can't speak for fear they will dissapear.

#dedicated to my beloved sister, Mba Ika

Jumat, 03 Februari 2012

Avocado Float



Masih dia yang sama dengan yang seminggu yang lalu duduk disana. Di meja nomor empat dekat jendela. Setiap hari pukul lima sore dia datang, hanya memesan Avocado Float. Sesaat kemudian ia pasti mengeluarkan rokok dan koreknya. Sebenarnya aneh, kenapa ia tidak memesan kopi atau capuccino sebagai temannya menyesap rokok. Avocado Float ini terlalu manis untuk disandingkan dengan lintingan tembakau dan asbak itu. Pengalamanku menjadi pemilik cafe ini selama dua tahun, sangat jarang laki-laki memesan Avocado Float.

Jam tujuh malam ia membayar bill dan berlalu keluar. Terus seperti itu sampai hari ini. Kali ini aku yang akan mencoba membawakan menu untuknya. Tanpa membaca menu, ia berkata dengan suara berat yang lirih, "Satu Avocado Float". Merasa begitu penasaran, aku berbohong untuk mengetahui reaksinya. "Maaf Mas, alpukatnya habis. Mungkin ada alternatif menu lain?". Ia diam sejenak kemudian berlalu. Aku hanya bengong melihat punggungnya menjauh. Aneh.

Beberapa saat kemudian ia kembali membawa sekantong plastik lalu menuju padaku yang ada di meja kasir. "Ini alpukat. Tolong buatkan Avocado Float untukku". Begitu herannya aku sampai ia menunggu begitu lama agar aku mengambil kantong plastik itu. "Baik", kataku. Tidak lama kemudian aku antarkan Avocado Float ke mejanya. Keesokan harinya ia tidak datang. Esoknya juga, esok lagi, sampai dua bulan kemudian.

Seorang laki-laki datang dan duduk di meja nomor empat dekat jendela. Wajahnya ceria, bibirnya merona untuk ukuran laki-laki dewasa yang mungkin tidak merokok, dan ia selalu membawa ipod nya. Aku menghampirinya sambil membawa menu. Belum sempat aku menyerahkan daftar menu, ia tersenyum ramah padaku dan berkata, "Miss, black coffee please". 


Menyesal?

Tidak. Tidak sama sekali. Aku lebih suka menyesal seperti, "Kenapa aku melakukannya?". Daripada aku menyesal sambil berkata, "Kenapa hal itu tidak kulakukan?". Untuk apa menyesal kalau memang tidak bisa kembali lagi. Kalau aku dipersilakan kembali ke beberapa waktu lalu, aku tetap tidak akan meminta untuk tidak dipertemukan denganmu. Kalau tidak bertemu denganmu aku tidak akan melalui satu tahun lebih yang merah jambu.

Beberapa tahun ke depan mungkin aku hanya mempunyai bingkai-bingkai fotomu yang tersusun rapi di rak bukuku. Mungkin aku masih akan menyimpan tiket-tiket masuk bioskop yang pernah kita kunjungi dan bon-bon makan kita berdua. Mungkin. 

Aku tidak pernah menyesali pertemuan, ataupun perpisahan. Kutekankan sejak awal karena menurutku kita bertemu untuk berpisah. Kesalahan bukan ada padamu, padaku, atau pertemuan dan perpisahan itu. Aku hanya ingin bertanya, entah siapa yang mampu menjawab disertai logika yang bisa kuterima. Mengapa waktu kita selalu salah? 



Last Love Letter (2)

Selamat pagi, Sayang.
Bagaimana hari disana? Apakah malaikat disana lebih cantik dari aku? Haha, disini tidak ada pangeran yang lebih tampan darimu.

Sayang, bagaimanapun aku tidak pernah sadar selama ini kau masih disekitarku. Mengikutiku berangkat sampai pulang kerja paruh waktu di restoran. Sepuluh tahun terakhir terlalu suram untuk kuingat. Sudah beberapa kali aku mencoba mengakhiri duka, berpikir untuk menyusulmu. Usaha yang selalu gagal. Sampai kemarin kau datang dan kita melalui satu hari bersama.

Saat aku bangun pagi ini, hanya ada suratmu di meja. Kau mungkin sudah berangkat. Hm, bagaimana bisa kau tidak mengucapkan selamat tinggal padaku. Tenanglah, aku akan membuang baju-baju usang yang kukenakan selama sepuluh tahun ini. Menggantinya dengan semua dress, rok dan cardigan ku yang dulu selalu kukenakan saat masih ada kamu.

Sayang, aku akan bahagia. Akan aku hapus wajah datar dan suram ini, aku akan kembali seceria dulu. Demi kamu. Ini permintaanmu. Hari ini aku ada di hadapanmu, di atas bukit dengan padang ilalang disekitarmu. Aku letakkan surat ini di nisanmu saja ya? Ah jangan, hujan bisa saja meleburkannya. Biar sedikit kuselipkan ke tanahmu saja ya.

Sayang, aku harus pulang. Dia sudah menuggu di bawah. Seperti permintaanmu juga, aku akan menemukan seseorang yang baik sepertimu. Ah ya, aku juga tidak akan makan mie instan lagi :)
Kau sudah bisa tenang, Sayang..

Oh ya. Sayang, biarpun aku sudah menikah nanti, aku masih boleh kan memakai cincin ini?


#inspiredfrom49days 

Kamis, 02 Februari 2012

Last Love Letter

Selamat malam, Sayang.
Aku menulis surat ini beberapa hari sebelum kita diperbolehkan untuk kembali bertemu. Sepuluh tahun sudah aku berada di dunia yang ambigu. Aku belum sampai di rumah Tuhan. Malaikat berkata bahwa masih ada urgensi yang harus kuselesaikan disini. Seluruh memoriku dihapus, tapi kemudian aku tidak paham bagaimana aku bisa mengingatmu yang ternyata adalah penyebab aku tidak bisa pergi. Aku memohon pada Tuhan kala itu, agar kita bisa bertemu satu hari lagi. Dan kemudian aku bisa pergi.

Hari itu sepuluh tahun yang lalu kita bertengkar hebat. Kita masih sangat muda saat itu. Aku berteriak sampai kau menangis meninggalkanku. Kau tahu kemana aku setelah kau membanting pintu rumahku? Aku berpikir keras bagaimana cara menyelesaikan ini. Kita bersama sejak kecil, tetapi baru kali ini terbelit akar masalah yang rumit. Ketahuilah, meskipun aku pergi ke club dan minum bersama teman-teman wanitaku, tapi kaulah rumahku. Pada akhirnya aku akan pulang padamu. Sampai akhirnya sore itu juga aku membeli sepasang cincin dengan uang tabunganku sendiri. Hasil dari petikan gitarku di cafe-cafe. Aku begitu larut dalam khayal yang bahagia dalam perjalanan pulang ke rumahmu, sampai tidak memperhatikan kendaraan yang begitu besar melaju kencang dari arah seberang yang akhirnya membuatku tak terjamah seperti ini.

Sayang, aku tahu betapa sulitnya hidupmu sepuluh tahun ini. Tubuhmu semakin kurus, matamu sayu, dan aura ceriamu berubah menjadi kelam. Mengingat bahwa kau dulu hanya punya aku, hidupmu sebatang kara tanpa siapapun. Tinggal dalam rumah kontrakan yang kecil, bekerja paruh waktu di restoran, dan setiap hari hanya mau makan mie instan. Bagaimana aku tidak nanar melihatmu?

Aku beruntung Tuhan memberikan kesempatan satu hari ini untuk bersamamu. Awalnya kau tidak percaya bahwa ini benar-benar aku. Kita menangis berdua di jalan setapak taman yang sering kita lalui dulu. Memasak bersama, mengecat rumah, bermain gitar dan menyanyi. Cincin yang belum sempat tersematkan dulu, sudah kuberikan. Sayangnya satu hari hanyalah satu hari. Hanya 24 jam. Urusanku sudah selesai disini.

Sayang, kereta Tuhan sudah datang. Aku benar-benar harus pergi, kali ini aku tidak bisa kembali lagi. Kau jangan terus makan mie instan lagi. Jangan berwajah sayu seperti itu lagi, aku tidak ingin memasuki kereta dengan suara isakanmu nanti. Temukan seseorang diluar sana yang mampu menjagamu lebih dari yang kulakukan. Hiduplah bahagia.

Sayang, bisakah kau hidup bahagia demi aku?


#inspiredfrom49days

Minggu, 29 Januari 2012

Lagu(mu)

Ini lagumu. Maksudku, ini lagu favoritmu yang kau mainkan setiap senggang dan selalu ada di playlist mu. Sesekali aku mendapatimu sedang diam memejamkan mata dengan headset yang melekat di telinga. Raut wajah yang damai dengan mata yang meredup, aku bisa melihat banyak kerinduan disana. Bukan hanya kerinduan, mungkin penyesalan. Penyesalan yang meracik rindumu hingga menjadi luka.

Ini lagumu. Lagu ini yang sering kau minta padaku untuk turut mendengarkannya. Kau begitu menyukainya. Aku paham, karena lagu ini terlalu banyak berkisah tentang rindu. Terlalu banyak berkisah tentang kamu, pasti. Setidaknya jika kau terluka, jangan membubuhkan luka pula pada yang lain. Dan setidaknya jika kau menyukai satu lagu, jangan kau minta aku turut mendengarkannya bersamamu. Terlebih jika lagu yang mengisahkan hidupmu itu tidak ada kaitannya denganku. Biar kuperjelas, terlebih jika kerinduan yang kau agungkan dalam lagumu itu, bukan untukku.

Ini lagumu. Aku suka mendengarkannya. Meskipun tidak sedang berbagi headset denganmu. Diam memejamkan mata, mencoba menirukan raut wajahmu ketika sedang mendengarkan lagu ini. Panjang ceritanya sehingga rindumu kini adalah milikku, bukan yang lain. Sesaat sebelum pesawatmu lepas landas, kau memintaku untuk menunggu sampai kau kembali.

Ini lagumu. Sampai sekarang kita masih mendengarkannya bersama, beserta dua malaikat kecil kita. Lagu ini yang menjadi pengantar tidur sampai kita mematikan lampu kamar mereka. Agar mereka tahu bahwa lagu ini meniti kisah yang panjang dan berkerikil untuk akhir yang bahagia.

Ini lagumu. Ah bukan, ini lagu kita.


Jumat, 06 Januari 2012

:)

A : Kenapa warna putih?
B : Bersih.
A : Tapi itu mudah kotor.
B : Itu poinnya. Bagaimana kita bisa menjaga agar putih ini tidak kotor. Jangan berpikir bagaimana kalau ini kotor. Jaga saja.

Jumat, 30 Desember 2011

Kertas

Kertas. Kosong. Putih.
Ia tidak pernah mau tergeletak seperti ini. Sebagai bungkus makanan, kotor, kemudian dibuang. Lalu terbang dihalau kendaraan yang lewat. Bukan noda seperti ini yang ia mau. Jelas bukan yang ini. Ia juga ingin tercoreng dengan tinta, yang kemudian menjadikannya bernilai, sebagai kertas. Seperti teman-temannya yang lain, yang menyatu dalam buku. Nasibnya sedang buruk saat itu, sehingga harus tersobek kasar dan terbuang di jalan.  Setidaknya untuk saat ini, ia ingin berguna, sebagai apapun lah. Sebelum ia hancur dimakan hujan.

Ia duduk di tepi rel kereta api, menunggu angin menerbangkannya menjauh. Kalau tidak, ia mungkin akan hancur terlindas. Sampai seorang gadis kecil menunduk, memungutnya. Ia bertanya-tanya akan diapakan aku oleh gadis kecil ini. Mengeluarkan pensil yang sudah sangat pendek dari kantong baju lusuhnya, gadis kecil itu menorehkan sesuatu pada Kertas.

"Kenapa banyak orang jahat sama aku" 

Tulisannya sangat jelek dan sulit dibaca. Kemudian ia melipat Kertas dan memasukkannya ke kantong. Gadis kecil itu bangkit dan berjalan menyusuri rel. Tidak ada yang menyadari suara kereta api di belakang. Sepersekian detik kemudian, kertas sudah melayang kembali. Tergeletak di samping rel, tertegun memandangi gadis kecil itu yang sudah tidak bernafas lagi.

Dalam diam Kertas berdoa, "Ya Tuhan, jangan turunkan hujan untuk hancurkan aku sekarang. Belum ada yang membaca goresan ini".

Senin, 12 Desember 2011

Tawa Kita

Bukankah bodoh kalau aku hanya diam sementara banyak yang ingin aku uraikan? Bahkan untuk membuat langkah awal saja aku bingung. Bodoh sekali bukan? Banyak yang ingin aku teriakkan di telingamu. Demi membiarkan uraian panjangku membisingkanmu. Aku terlalu takut. Begitu takutnya aku, tidak ada sepatah kata pun yang terdengar oleh telingamu. Jangan sekalipun memintaku bicara atau aku akan menceracau dan mungkin tangisku meledak saat itu juga. Kita punya banyak waktu yang bisa dihabiskan dengan tawa, tawa kita. Buang saja rasa cemasmu, tidak ada yang membutuhkan selagi kita masih tertawa. Bodoh, hal yang tidak lucu pun kita tertawakan. Jangan pulang sebelum tawamu reda, karena kamu mungkin tidak akan tertawa lagi, dengan aku..

Minggu, 20 November 2011

Dear, you


I'd rather had bad times with you, than good times with someone else.
#myownquotes

Hey kamu.
Aku tidak pernah memintamu memperlakukanku seperti putri raja.
Aku tidak pernah memintamu untuk memanggilku "cantik".
Aku tidak pernah memintamu memayungiku saat hujan, sementara bajumu basah kuyup.
Aku tidak pernah memintamu menarikkan kursi ketika kita duduk berdua, menikmati pancake di senja hari.
Aku tidak pernah memintamu memainkan lagu untuk menghiburku.
Aku tidak pernah memintamu membukakan pintu untukku.
Aku tidak pernah memintamu meluangkan banyak waktu untukku, karena kamu pun sangat sibuk.
Aku tidak pernah memintamu untuk menungguiku semalaman ketika aku sakit.

Hey kamu.
Aku meminta kamu, yang memanggilku "bodoh", "cengeng", atau "cerewet".
Aku meminta kamu, yang melempar payung sehingga kita pulang dengan basah kuyup, tertawa bemain hujan.
Aku meminta kamu, yang selalu punya cara konyol untuk menghiburku.
Aku meminta kamu, yang duduk bertopang dagu dengan wajah polos, menungguku selesai memasak pancake.
Aku meminta kamu, yang duduk diam, menepuk pelan kepalaku ketika air mata ini tumpah.
Aku meminta kamu, yang menahan pintu ketika aku akan masuk sambil tertawa jahil, sehingga semua orang memperhatikan tingkah bodoh kita.
Aku meminta kamu, yang memarahiku ketika aku jatuh sakit.
Aku meminta kamu, yang menjadi orang terakhir untuk mengucapkan selamat malam di penghujung hariku.
Aku meminta kamu, yang selalu mengingatku ketika beranjak tidur, sesibuk apapun harimu.

Hey kamu.
Aku lebih memilih melalui waktu yang sulit bersamamu, daripada bersenang-senang dengan orang lain.

Selasa, 15 November 2011

diam

Aku akan diam. Aku memang diam. Aku tidak akan protes. Selama ini aku memang tidak pernah protes. Apa yang kamu lakukan, aku diam. Bagaimana mungkin aku berkomentar untuk merusak sedikit waktumu untukku yang sangat cukup. Karena itu aku akan diam, bicaralah sepuasmu. Aku yang mendengarkan. Lakukan apa yang kamu ingin, aku tidak akan protes. Aku akan diam.